Tentang Borobudur, orang pernah salah mengerti. Penyebabnya, sebuah arca Budha cacad yang ditemukan di stupa induk candi raksasa yang dibangun sekitar 800 Masehi itu. Berbeda dengan 504 arca yang lain, Budha yang bersemayam di sangkar batu tingkat tujuh itu seolah belum selesai dikerjakan.
Profesor Soekmono, orang Indonesia pertama yang memimpin Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional, melukiskannya sebagai arca yang mukanya jelek dan tubuhnya cacad. Keriting rambutnya belum dipahat dan lengan atas yang kanan tidak sama panjangnya dengan yang sebelah kiri. Selain luka pada dahi dan hidung, salah satu ibu jarinya juga hilang.
Melihat segala cacad itu, tidak mengherankan jika banyak orang meragukan apakah benar arca tersebut merupakan bagian dari candi semegah Borobudur. Mereka seolah tidak rela, ada titik noda kecil yang mencemari sebuah kesempurnaan.
Keraguan segera disusul perdebatan panjang. Terpengaruh oleh pedebatan tersebut, Theodoor van Erp tidak segera mengembalikan arca cacad itu ke stupa induk saat memimpin restorasi pada 1907-1911. Akibatnya, sempat sang Budha teronggok di bawah pohon Kenari di halaman candi layaknya tunawisma.
Citra sempurna tak jarang menyilaukan kita, sama seperti dia telah menyilaukan mereka yang menolak kembalinya arca Budha cacad ke stupa induk. Kekurangan menjadi sesuatu yang pantas dihindari, ditutup-tutupi, atau bahkan sebisa mungkin disingkirkan jauh-jauh.
Memandang diri sempurna, kita tidak pernah tahan mendengar kritik. Sama persis dengan keberatan wakil rakyat mendengar lagu pedas Slank beberapa waktu lalu. Mana mungkin di gedung DPR yang terhormat ini ada mafia? Kami mengabdi rakyat, bukan uang.
Mereka boleh mencak-mencak. Tapi simaklah berita beberapa hari belakangan. Belum lama seorang wakil rakyat tertangkap akibat terlibat korupsi, buru-buru menyusul yang lain. Lebih celaka, praktik ini ditakutkan sudah menjadi sesuatu yang banal, yang biasa, yang tak membuat malu apalagi jera.
Ada mafia di Senayan. Ada arca cacad di gedung wakil rakyat yang terhormat, dan yang oleh penghuninya selalu ingin dibuang jauh-jauh. Lebih jauh dari pohon Kenari di halaman candi hingga tak seorang pun tahu.
Menyimak situasi seperti ini, patut diapresiasi langkah KPK memberantas segala penyelewengan yang dilakukan anggota dewan. Seolah meneruskan usaha van Erp merestorasi Borobudur 80 tahun lalu, mereka berusaha menemukan arca cacad yang ditelantarkan dan menempatkannya kembali ke dalam gedung tempat tinggal para wakil rakyat nan terhormat.
Mengembalikan cacad di tengah kesempurnaan adalah langkah bijak mengakui kerapuhan manusia. Hanya dengan mengakui kerapuhan sebagai bagian diri, kita dapat terus belajar dan bergerak maju, menjadi lebih baik. Bukannya dengan menyingkirkan arca cacad di halaman, bukan dengan ketidakjujuran mengakui perbuatan korupsi.
Kerapuhan dan kekurangan adalah bagian tak terpisahkan dalam diri kita manusia. Dialah arca cacad yang bersemayam di puncak tertinggi Borobudur.
Sunday, July 6, 2008
Wednesday, July 2, 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)