bandung diguyur hujan deras saat hamlet sendirian
meraung: o mengapa daging yang terlalu padat ini tak
mencair dan menjadi embun?
pangeran itu ingin jadi butir bening jatuh di pucuk daun
dan lenyap saat matahari muncul perlahan.
demikian agung.
pangeran itu ingin pergi dari sekongkol ibu dan pamannya
yang menikah tak genap sebulan sesudah raja mangkat.
demikian bingung.
tapi tak ada embun di kota ini
hujan deras meluapkan selokan dan kali
jalan-jalan tergenang, sampah-sampah berenang.
horatio, sang kawan, adalah petir yang menyambar-nyambar
hingga yakinlah pangeran
: akal penjahat, meski terpendam di bumi, akhirnya terlihat.
tak ada embun di kepala Hamlet
dialah hujan deras yang meruakkan dendam dan benci
kerajaan tergenang darah, mayat-mayat berenang pasrah.
7 mei 08
Saturday, June 28, 2008
Friday, June 27, 2008
seribu kunang-kunang menyeberangi pasifik
kepadamu di kerajaan langit, kukirimkan seribu kunang-kunang menyeberangi pasifik
kunang-kunang sama yang dilihat kayam di manhattan.
kukirim mereka dengan ruh cahaya dan sejumput doa
semoga terhindar makhluk-makhuk cantik itu
dari fengshen yang melenyapkan ratusan orang di filipina
kabari aku jika dari jendela apartemenmu kamu lihat mereka menyentuh ujung pantai
dan kau lihat bentangan sawah hijau lengkap dengan rik-rik jangkrik dan kung-kok kodok
aku menunggumu di sana, di antara tumpukan batang padi sesudah musim panen
dan kita berlari,
bergandengan tangan seperti anak kecil tak lelah mengejar rombongan bangau mencari makan
kepadamu di kerajaan langit, kukirimkan seribu kunang-kunang menyeberangi pasifik
kunang-kunang sama yang dilihat kayam di manhattan.
tapi sayang, di tengah jalan serombongan perompak menangkapi mereka
dan memasukkan satu per satu ke lubang di pelepah pepaya
pedang mereka menyala sekarang.
kunang-kunang sama yang dilihat kayam di manhattan.
kukirim mereka dengan ruh cahaya dan sejumput doa
semoga terhindar makhluk-makhuk cantik itu
dari fengshen yang melenyapkan ratusan orang di filipina
kabari aku jika dari jendela apartemenmu kamu lihat mereka menyentuh ujung pantai
dan kau lihat bentangan sawah hijau lengkap dengan rik-rik jangkrik dan kung-kok kodok
aku menunggumu di sana, di antara tumpukan batang padi sesudah musim panen
dan kita berlari,
bergandengan tangan seperti anak kecil tak lelah mengejar rombongan bangau mencari makan
kepadamu di kerajaan langit, kukirimkan seribu kunang-kunang menyeberangi pasifik
kunang-kunang sama yang dilihat kayam di manhattan.
tapi sayang, di tengah jalan serombongan perompak menangkapi mereka
dan memasukkan satu per satu ke lubang di pelepah pepaya
pedang mereka menyala sekarang.
Thursday, June 26, 2008
seragam sekolah buat jian
jemari mungil bocah perempuan itu kokoh menggenggam sebatang pensil yang tinggal lima centimeter panjangnya. sedikit susah-payah dibuatnya deretan huruf di buku kumal di hadapannya: j-i-a-n-s-o-f-i-a.
selesai menulis, dia menoleh ke arah sang ibu dan bertanya: "ibu, sudah benar kan nama saya begini? jian boleh sekolah, ya? mulai besok?"
juju juraiyah, sang ibu, hanya bisa menganggukkan kepala pelan. temaram lampu 20 watt di ruang tamu 3x4 meter tempat dia menemani putrinya belajar setiap petang, memperlihatkan gurat penuh kegetiran di wajah bulatnya. dia teringat kegagalannya tahun lalu memasukkan putri semata wayangnya itu ke taman kanak-kanak. dia teringat hari pertama masuk sekolah pada tengah juli yang kian dekat sementara uang penutup biaya tak kunjung terkumpul.
saat itu awal juni. di luar kamar tamu sebuah rumah kecil di kampung tagog kabupaten bandung tersebut, angin kering pancaroba berdesir mengabarkan datangnya kemarau. musim segera berubah, juju tahu. Tapi dia sungguh tidak tahu apakah hari-hari suramnya juga akan berubah.
***
menyekolahkan jian merupakan mimpi terbesar juju. "saya tidak ingin jian seperti kedua orangtuanya. gara-gara tidak berpendidikan tinggi, hidup jadi serba susah begini. jian harus bersekolah tinggi supaya dapat bekerja baik-baik dan hidup lebih enak," ujar juju yang tamatan sd.
lahir sebagai anak ketiga dari tujuh bersaudara, ibu muda kelahiran 1977 ini merasakan benar susahnya hidup bermodal pendidikan rendah. bersama sang suami, sopyan suteja, yang bahkan tidak tamat sd, mereka harus jatuh-bangun membanting tulang hanya demi bertahan hidup dari hari ke hari. tabungan menjadi sesuatu yang jauh bagi mereka.
sopyan seorang sopir tembak angkutan kota (angkot) cicaheum-cileunyi. dia mendapatkan uang hanya jika ada sopir lain yang lelah dan merelakan angkot miliknya dikemudikan. tiap satu putaran, uang yang dia peroleh harus dikurangi rp 15 ribu untuk setoran dan paling sedikit rp 15 ribu untuk membeli bensin. sisanya, biasanya tidak pernah lebih dari rp 30 ribu, dia bawa pulang.
juju memahami pekerjaan suaminya. sebagai sopir tembak, tidak ada penghasilan tetap yang bisa diharapkan. pendapatan harus pintar-pintar dihemat sebab dia sadar betapa besar biaya dibutuhkan untuk dapat menyekolahkan anaknya. selain biaya masuk yang terus merangkak naik, perlengkapan sekolah pun harus terbeli. sepatu, tas, dan alat tulis yang layak belum dimiliki jian. juga seragam sekolah.
"saya tidak bisa membayangkan seandainya jian tidak bersekolah tahun ini. dia pasti sangat sedih melihat teman-teman sebayanya berangkat ke sekolah dengan berseragam. bagaimanapun, jian harus sekolah," ujar juju.
begitulah juju bermimpi; tapi sebulan lalu, kamis (7/5) pagi tepatnya, dia harus geragapan terbangun. datang kabar tentang penahanan sang suami oleh polisi. sopyan kedapatan membawa satu paket kecil daun ganja kering.
dunia juju jungkir-balik. "saya tidak tahu harus berbuat apa lagi. sakit rasanya. saya dikhianati dua kali," ujarnya berkaca-kaca.
bagi sang suami, penahanan ini memang bukan yang pertama. empat tahun lalu ia tersandung kasus serupa. masa kurungan satu tahun dia habiskan di rumah tahanan kebonwaru bandung sebagai ganjaran menjadi kurir ganja.
waktu itu juju tengah berada di arab saudi sebagai pembantu rumah tangga. dia nekat pergi akibat keuangan keluarga yang tidak pernah membaik. penghasilan tak menentu sang suami sebagai sopir tembak membuatnya berhutang kiri-kanan untuk menutup pengeluaran.
"pada awalnya suami tidak mengijinkan saya pergi ke arab. penginnya saya di rumah merawat anak. tapi mau bagaimana? hutang kami yang lebih dari rp 500 ribu mau dibayar pakai apa?" ujar juju yang mengaku beruntung mendapatkan majikan yang pengertian.
kabar penahanan sang suami datang lewat surat dari keluarga. tapi dia sadar tidak dapat serta-merta pulang. tabungan miliknya belum banyak. jangankan untuk menutup hutang, untuk biaya pulang saja belum cukup. maka dia memilih bertahan untuk beberapa bulan lagi.
ini keputusan berat buat Juju. dia banyak memikirkan jian yang ketika itu berusia satu tahun dan dirawat mertua di kampung cikalang, kabupaten bandung. akibatnya, dia mudah jatuh sakit dan beberapa kali harus dirawat di rumah sakit. ketika akhirnya dia pulang ke rumah, berat badannya merosot hingga 10 kilogram dibanding saat dia berangkat.
sejak pulang dari tanah arab, juju menyadari bahwa dirinya sekarang menjadi tumpuan hidup keluarga, khususnya bagi putrinya. dia pun mulai mencari pekerjaan. sayangnya, ijazah sekolah dasar, satu-satunya ijazah yang dia miliki, mempersulit ruang geraknya.
"sekarang mah pabrik-pabrik mau karyawannya minimal punya ijazah smp. tambahan lagi umur saya sudah tua, pabrik mah lebih memilih tenaga yang muda-muda," tutur juju yang telah beberapa kali mencoba melamar ke pabrik tetapi tidak berbuah.
apa yang bisa juju jual hanyalah tenaganya yang masih cukup kuat mengerjakan pekerjaan kasar. mulailah dia berkeliling di perumahan dekat tempat dia tinggal. jasa mencuci piring dan pakaian dia tawarkan pada keluarga-keluarga sibuk.
upah yang diperoleh juju tidaklah besar. jasa sekali mencuci rp 10.000,00. saat ini baru satu keluarga yang menggunakan jasa juju secara rutin setiap minggu. jika beruntung dia bisa mendapatkan dua sampai tiga keluarga tambahan.
"uang itu hanya cukup untuk memberi uang jajan bagi jian. sedikit sisanya saya tabung buat sekolah nanti. soal makan, kami masih bergantung pada orang tua," ujar juju.
***
beban hidup yang makin runyam dewasa ini pastilah terasa memberatkan bagi sebagian besar orang. naiknya harga bbm diikuti melambungnya harga kebutuhan-kebutuhan pokok. bagi mereka yang berpenghasilan pas-pasan, biaya pendidikan menjadi tak haram disisihkan.
akan selalu ada banyak jian-jian yang lain, mereka yang kurang beruntung untuk mendapatkan akses pendidikan secara mudah, dan akhirnya telantarkan. tapi akan muncul juga juju-juju lain yang dengan sepenuh hati memperjuangkan pendidikan bagi anak-anak yang mereka cintai.
meski hidup serba kekurangan, juju tidak mau kalah pada himpitan persoalan. dari pada memilih kalah pada keterbatasan ekonomi dan bencana daun ganja yang menimpa sang suami, dia berjalan sekuat tenaga mengejar mimpinya, menyekolahkan Jian.
beginilah dia bermimpi: dua minggu sebelum hari pertama masuk sekolah tengah juli nanti, akan dia ajak putri semata wayangnya itu ke kota membeli bahan pakaian warna putih dan merah. lalu segera dia bawa jian ke rumah iis, salah seorang tetangga yang biasa menjahit.
dengan cekatan, iis merentangkan seuntai meteran warna putih ke tubuh bocah berperawakan mungil itu. sementara meteran berpindah cepat dari bahu, punggung, lengan, pinggang, dan lutut jian, mulut penjahit itu tidak berhenti menggumamkan angka-angka dalam bahasa sunda.
duduk di kursi di sudut ruangan, Juju tersenyum mengamati putrinya terbengong, mengikuti anjuran iis. sesekali dia harus mengangkat kedua tangan saat meteran dilingkarkan di dada dan pinggang. di lain saat dia diminta sedikit berputar. "jian pasti terlihat cantik dengan seragam barunya nanti," kata juju dalam hati.
selesai menulis, dia menoleh ke arah sang ibu dan bertanya: "ibu, sudah benar kan nama saya begini? jian boleh sekolah, ya? mulai besok?"
juju juraiyah, sang ibu, hanya bisa menganggukkan kepala pelan. temaram lampu 20 watt di ruang tamu 3x4 meter tempat dia menemani putrinya belajar setiap petang, memperlihatkan gurat penuh kegetiran di wajah bulatnya. dia teringat kegagalannya tahun lalu memasukkan putri semata wayangnya itu ke taman kanak-kanak. dia teringat hari pertama masuk sekolah pada tengah juli yang kian dekat sementara uang penutup biaya tak kunjung terkumpul.
saat itu awal juni. di luar kamar tamu sebuah rumah kecil di kampung tagog kabupaten bandung tersebut, angin kering pancaroba berdesir mengabarkan datangnya kemarau. musim segera berubah, juju tahu. Tapi dia sungguh tidak tahu apakah hari-hari suramnya juga akan berubah.
***
menyekolahkan jian merupakan mimpi terbesar juju. "saya tidak ingin jian seperti kedua orangtuanya. gara-gara tidak berpendidikan tinggi, hidup jadi serba susah begini. jian harus bersekolah tinggi supaya dapat bekerja baik-baik dan hidup lebih enak," ujar juju yang tamatan sd.
lahir sebagai anak ketiga dari tujuh bersaudara, ibu muda kelahiran 1977 ini merasakan benar susahnya hidup bermodal pendidikan rendah. bersama sang suami, sopyan suteja, yang bahkan tidak tamat sd, mereka harus jatuh-bangun membanting tulang hanya demi bertahan hidup dari hari ke hari. tabungan menjadi sesuatu yang jauh bagi mereka.
sopyan seorang sopir tembak angkutan kota (angkot) cicaheum-cileunyi. dia mendapatkan uang hanya jika ada sopir lain yang lelah dan merelakan angkot miliknya dikemudikan. tiap satu putaran, uang yang dia peroleh harus dikurangi rp 15 ribu untuk setoran dan paling sedikit rp 15 ribu untuk membeli bensin. sisanya, biasanya tidak pernah lebih dari rp 30 ribu, dia bawa pulang.
juju memahami pekerjaan suaminya. sebagai sopir tembak, tidak ada penghasilan tetap yang bisa diharapkan. pendapatan harus pintar-pintar dihemat sebab dia sadar betapa besar biaya dibutuhkan untuk dapat menyekolahkan anaknya. selain biaya masuk yang terus merangkak naik, perlengkapan sekolah pun harus terbeli. sepatu, tas, dan alat tulis yang layak belum dimiliki jian. juga seragam sekolah.
"saya tidak bisa membayangkan seandainya jian tidak bersekolah tahun ini. dia pasti sangat sedih melihat teman-teman sebayanya berangkat ke sekolah dengan berseragam. bagaimanapun, jian harus sekolah," ujar juju.
begitulah juju bermimpi; tapi sebulan lalu, kamis (7/5) pagi tepatnya, dia harus geragapan terbangun. datang kabar tentang penahanan sang suami oleh polisi. sopyan kedapatan membawa satu paket kecil daun ganja kering.
dunia juju jungkir-balik. "saya tidak tahu harus berbuat apa lagi. sakit rasanya. saya dikhianati dua kali," ujarnya berkaca-kaca.
bagi sang suami, penahanan ini memang bukan yang pertama. empat tahun lalu ia tersandung kasus serupa. masa kurungan satu tahun dia habiskan di rumah tahanan kebonwaru bandung sebagai ganjaran menjadi kurir ganja.
waktu itu juju tengah berada di arab saudi sebagai pembantu rumah tangga. dia nekat pergi akibat keuangan keluarga yang tidak pernah membaik. penghasilan tak menentu sang suami sebagai sopir tembak membuatnya berhutang kiri-kanan untuk menutup pengeluaran.
"pada awalnya suami tidak mengijinkan saya pergi ke arab. penginnya saya di rumah merawat anak. tapi mau bagaimana? hutang kami yang lebih dari rp 500 ribu mau dibayar pakai apa?" ujar juju yang mengaku beruntung mendapatkan majikan yang pengertian.
kabar penahanan sang suami datang lewat surat dari keluarga. tapi dia sadar tidak dapat serta-merta pulang. tabungan miliknya belum banyak. jangankan untuk menutup hutang, untuk biaya pulang saja belum cukup. maka dia memilih bertahan untuk beberapa bulan lagi.
ini keputusan berat buat Juju. dia banyak memikirkan jian yang ketika itu berusia satu tahun dan dirawat mertua di kampung cikalang, kabupaten bandung. akibatnya, dia mudah jatuh sakit dan beberapa kali harus dirawat di rumah sakit. ketika akhirnya dia pulang ke rumah, berat badannya merosot hingga 10 kilogram dibanding saat dia berangkat.
sejak pulang dari tanah arab, juju menyadari bahwa dirinya sekarang menjadi tumpuan hidup keluarga, khususnya bagi putrinya. dia pun mulai mencari pekerjaan. sayangnya, ijazah sekolah dasar, satu-satunya ijazah yang dia miliki, mempersulit ruang geraknya.
"sekarang mah pabrik-pabrik mau karyawannya minimal punya ijazah smp. tambahan lagi umur saya sudah tua, pabrik mah lebih memilih tenaga yang muda-muda," tutur juju yang telah beberapa kali mencoba melamar ke pabrik tetapi tidak berbuah.
apa yang bisa juju jual hanyalah tenaganya yang masih cukup kuat mengerjakan pekerjaan kasar. mulailah dia berkeliling di perumahan dekat tempat dia tinggal. jasa mencuci piring dan pakaian dia tawarkan pada keluarga-keluarga sibuk.
upah yang diperoleh juju tidaklah besar. jasa sekali mencuci rp 10.000,00. saat ini baru satu keluarga yang menggunakan jasa juju secara rutin setiap minggu. jika beruntung dia bisa mendapatkan dua sampai tiga keluarga tambahan.
"uang itu hanya cukup untuk memberi uang jajan bagi jian. sedikit sisanya saya tabung buat sekolah nanti. soal makan, kami masih bergantung pada orang tua," ujar juju.
***
beban hidup yang makin runyam dewasa ini pastilah terasa memberatkan bagi sebagian besar orang. naiknya harga bbm diikuti melambungnya harga kebutuhan-kebutuhan pokok. bagi mereka yang berpenghasilan pas-pasan, biaya pendidikan menjadi tak haram disisihkan.
akan selalu ada banyak jian-jian yang lain, mereka yang kurang beruntung untuk mendapatkan akses pendidikan secara mudah, dan akhirnya telantarkan. tapi akan muncul juga juju-juju lain yang dengan sepenuh hati memperjuangkan pendidikan bagi anak-anak yang mereka cintai.
meski hidup serba kekurangan, juju tidak mau kalah pada himpitan persoalan. dari pada memilih kalah pada keterbatasan ekonomi dan bencana daun ganja yang menimpa sang suami, dia berjalan sekuat tenaga mengejar mimpinya, menyekolahkan Jian.
beginilah dia bermimpi: dua minggu sebelum hari pertama masuk sekolah tengah juli nanti, akan dia ajak putri semata wayangnya itu ke kota membeli bahan pakaian warna putih dan merah. lalu segera dia bawa jian ke rumah iis, salah seorang tetangga yang biasa menjahit.
dengan cekatan, iis merentangkan seuntai meteran warna putih ke tubuh bocah berperawakan mungil itu. sementara meteran berpindah cepat dari bahu, punggung, lengan, pinggang, dan lutut jian, mulut penjahit itu tidak berhenti menggumamkan angka-angka dalam bahasa sunda.
duduk di kursi di sudut ruangan, Juju tersenyum mengamati putrinya terbengong, mengikuti anjuran iis. sesekali dia harus mengangkat kedua tangan saat meteran dilingkarkan di dada dan pinggang. di lain saat dia diminta sedikit berputar. "jian pasti terlihat cantik dengan seragam barunya nanti," kata juju dalam hati.
robot (beberapa hari lalu aku menulis dan termuat di koran tempat kerja. begini bunyinya.)
menonton kontes robot di kampus universitas indonesia depok akhir pekan lalu, saya banyak tercengang. lalu tiba-tiba iri. bagaimana tidak? robot-robot makin cerdas sekarang. dalam arti tertentu bahkan makin ‘manusiawi’.
salah satu contohnya, robot pemadam api. dilombakan dalam empat kategori, robot jenis ini bertugas memadamkan kebakaran. semua tentu saja masih simulasi. dia bergerak mematikan nyala lilin dan menyelamatkan boneka dalam arena yang dibagi-bagi dalam sekat.
tapi bayangkan jika robot-robot itu bisa (dan yakinlah, tidak terlalu lama lagi akan bisa) diaplikasikan di kehidupan nyata untuk menangani kebakaran sungguhan. lilin mengandaikan nyala api, boneka merupakan korban yang terjebak, dan arena bersekat melambangkan ruang-ruang gedung yang terbakar.
tanpa bermaksud mengecilkan peran para petugas pemadam, robot-robot yang terprogram khusus untuk lokasi kebakaran yang spesifik niscaya dapat menyumbang andil besar. mereka mengenal medan dan tak diragukan lagi mampu menerobos masuk ke tempat-tempat yang terlalu berbahaya bagi manusia.
bayangkan juga jika robot-robot itu dapat diproduksi banyak dan dijual murah. keluarga-keluarga dapat memiliki satu robot untuk berjaga di rumah mereka. juga jangan lupakan pasar-pasar tradisional yang dalam beberapa tahun terakhir kerap terbakar. mereka berhak punya.
nantinya, begitu penghuni melihat kobaran api pertama, mereka tidak perlu jatuh panik. pencet saja satu tombol di badan robot dan mesin cerdas itu akan beraksi memadamkan api secara otomatis. dengan lugas, dia juga mencari korban.
kecerdasan artifisial robot yang berhasil dibuat hingga hari ini memang baru setaraf dengan kemampuan anak berusia satu tahun, tapi riset dilakukan setiap hari. teknologi terus berlari kencang. bukan mustahil, kecerdasan robot akan berkembang meniru pola evolusi manusia, dari pengguna perkakas sederhana yang bersembunyi di ceruk-ceruk gua menjadi manusia bijak yang menjelajahi angkasa.
david levy termasuk orang yang mempercayai masa depan seperti itu. peneliti kecerdasan artifisial asal universitas maastricht belanda ini percaya robot akan makin serupa dengan manusia. robot mendengarkan cerita kita, membuat kita tertawa, dan memahami perasaan kita. levi bahkan bernujum, pada 2050 nanti orang akan mulai menikah dengan robot.
saya iri. betapa makin manusiawinya robot-robot itu. dan rasa iri saya tersebut makin menjadi-jadi saat di koran pagi dan televisi beberapa hari terakhir, berita-berita ganjil menyergap. kekerasan di monas, bentrok di maluku utara, dan suap di kejaksaan. ganjil, karena ketiganya mengabarkan hal yang sama: manusia-manusia makin menyerupai robot.
robot, seberapa pun cerdas ia, selalu tunduk pada program. dia tidak pernah berinisiatif menyeberang dari ‘kotak’ yang sudah disiapkan untuknya sejak awal. ia berjalan sebatas kepastian-kepastian yang tertanam di kepalanya. tidak ada alternatif bagi yang lain. tidak ada toleransi.
seperti itulah robot, dan seperti itu jugalah manusia-manusia dewasa ini. termasuk saya, dan barangkali Anda. kebenaran menjadi kepastian di kepala sehingga tidak ada yang tersisa buat yang lainnya. kebenaran termonopoli.
maka atas nama kebenaran seperti itu, kita bebas menyerang orang lain yang berbeda. kita boleh memaksakan kehendak pada mereka yang tidak satu pengertian. kita bisa menyingkirkan semua yang tidak mau mengakui apa yang kita akui.
kebenaran tunggal menjadi program kita. juga uang, jika menyimak kasus di kejaksaan. demi memperolehnya, kita rela meninggalkan sumpah jabatan, rela menggadaikan kepercayaan orang banyak. kebenaran tunggal dan uang menjadi program yang menjadikan kita robot-robot yang kaku, yang tak memberi ruang pada yang lain. kebebasan kita mencari alternatif telah tercuri.
saya jadi bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang lebih manusiawi dan siapa yang lebih seperti robot?
salah satu contohnya, robot pemadam api. dilombakan dalam empat kategori, robot jenis ini bertugas memadamkan kebakaran. semua tentu saja masih simulasi. dia bergerak mematikan nyala lilin dan menyelamatkan boneka dalam arena yang dibagi-bagi dalam sekat.
tapi bayangkan jika robot-robot itu bisa (dan yakinlah, tidak terlalu lama lagi akan bisa) diaplikasikan di kehidupan nyata untuk menangani kebakaran sungguhan. lilin mengandaikan nyala api, boneka merupakan korban yang terjebak, dan arena bersekat melambangkan ruang-ruang gedung yang terbakar.
tanpa bermaksud mengecilkan peran para petugas pemadam, robot-robot yang terprogram khusus untuk lokasi kebakaran yang spesifik niscaya dapat menyumbang andil besar. mereka mengenal medan dan tak diragukan lagi mampu menerobos masuk ke tempat-tempat yang terlalu berbahaya bagi manusia.
bayangkan juga jika robot-robot itu dapat diproduksi banyak dan dijual murah. keluarga-keluarga dapat memiliki satu robot untuk berjaga di rumah mereka. juga jangan lupakan pasar-pasar tradisional yang dalam beberapa tahun terakhir kerap terbakar. mereka berhak punya.
nantinya, begitu penghuni melihat kobaran api pertama, mereka tidak perlu jatuh panik. pencet saja satu tombol di badan robot dan mesin cerdas itu akan beraksi memadamkan api secara otomatis. dengan lugas, dia juga mencari korban.
kecerdasan artifisial robot yang berhasil dibuat hingga hari ini memang baru setaraf dengan kemampuan anak berusia satu tahun, tapi riset dilakukan setiap hari. teknologi terus berlari kencang. bukan mustahil, kecerdasan robot akan berkembang meniru pola evolusi manusia, dari pengguna perkakas sederhana yang bersembunyi di ceruk-ceruk gua menjadi manusia bijak yang menjelajahi angkasa.
david levy termasuk orang yang mempercayai masa depan seperti itu. peneliti kecerdasan artifisial asal universitas maastricht belanda ini percaya robot akan makin serupa dengan manusia. robot mendengarkan cerita kita, membuat kita tertawa, dan memahami perasaan kita. levi bahkan bernujum, pada 2050 nanti orang akan mulai menikah dengan robot.
saya iri. betapa makin manusiawinya robot-robot itu. dan rasa iri saya tersebut makin menjadi-jadi saat di koran pagi dan televisi beberapa hari terakhir, berita-berita ganjil menyergap. kekerasan di monas, bentrok di maluku utara, dan suap di kejaksaan. ganjil, karena ketiganya mengabarkan hal yang sama: manusia-manusia makin menyerupai robot.
robot, seberapa pun cerdas ia, selalu tunduk pada program. dia tidak pernah berinisiatif menyeberang dari ‘kotak’ yang sudah disiapkan untuknya sejak awal. ia berjalan sebatas kepastian-kepastian yang tertanam di kepalanya. tidak ada alternatif bagi yang lain. tidak ada toleransi.
seperti itulah robot, dan seperti itu jugalah manusia-manusia dewasa ini. termasuk saya, dan barangkali Anda. kebenaran menjadi kepastian di kepala sehingga tidak ada yang tersisa buat yang lainnya. kebenaran termonopoli.
maka atas nama kebenaran seperti itu, kita bebas menyerang orang lain yang berbeda. kita boleh memaksakan kehendak pada mereka yang tidak satu pengertian. kita bisa menyingkirkan semua yang tidak mau mengakui apa yang kita akui.
kebenaran tunggal menjadi program kita. juga uang, jika menyimak kasus di kejaksaan. demi memperolehnya, kita rela meninggalkan sumpah jabatan, rela menggadaikan kepercayaan orang banyak. kebenaran tunggal dan uang menjadi program yang menjadikan kita robot-robot yang kaku, yang tak memberi ruang pada yang lain. kebebasan kita mencari alternatif telah tercuri.
saya jadi bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang lebih manusiawi dan siapa yang lebih seperti robot?
kayuh kaki acep
setiap kayuh kaki acep soleh adalah bukti tanggung jawab pada keluarga, pada istri dan kelima anaknya. setiap tetes keringat yang meluncur dari tubuhnya adalah wujud kepasrahannya pada hidup yang menurut dia, sederhana saja. mengalir, seperti jam-jam yang dia lewatkan di sepanjang perjalanan.
sudah 26 tahun acep mengayuh sepeda. Sejak udara kota kembang ini masih bersih-segar hingga hari ini berjubel kendaraan rajin menyisakan tumpukan asap, dia setia menggenjot pedal menyusuri jalanan.
setiap bakda subuh, sekitar pukul 05.00 wib, pria berusia hampir separuh abad ini menaiki sepeda gunungnya yang sudah karatan di beberapa bagian. melewati gang-gang sempit di kampungnya, kelurahan cipamokolan, kota bandung, selama hampir satu jam acep menyusuri jalan soekarno-hatta dan buah batu menuju bursa koran di cikapundung.
acep mulai menata 90-an koran harian dan memasukkannya ke dalam tas koran biru tua yang tersampir di boncengan belakang sepeda. sesudah itu dia bergegas mengayuh lagi sepedanya, yang bertambah berat beberapa kilogram oleh muatan koran, menuju rumah para pelanggan yang tinggal di jalan aceh, tongkeng, udang utara, udang selatan, patrakomala, dan bengawan.
“saya menikmati pekerjaan sebagai loper koran. kalau ditanya lelah tidak, ya pasti lelah. tapi inilah hidup saya, tanggung jawab saya pada keluarga,” ujar acep saat ditemui dalam perjalanan pulangnya di jalan soekarno-hatta beberapa hari lalu. butir-butir peluh ada di dahinya. noda-noda hitam pelumas menempel di ujung celana panjang coklat muda yang dia kenakan.
dengan penghasilan sebagai loper, acep mampu menghidupi keluarga hingga hari ini. dua putra tertuanya tamat smk dan man. salah seorang di antaranya sudah mendapat pekerjaan. “saya memandang penting pendidikan. karenanya semua anak saya sebisa mungkin harus bersekolah tinggi-tinggi,” ujarnya.
masih ada tiga putra acep duduk di bangku sekolah. putra ketiganya naik ke kelas 2 smk. dua terakhir, azka zakiah dan rizal mohammad gufron, akan masuk smp dan sd juli nanti. azka lulus ujian nasional (un) sd yang diumumkan sabtu (21/6), sedang rizal menyelesaikan hari-hari terakhirnya di taman kanak-kanak.
inilah tantangan yang harus dihadapi acep. istri aih zubaidah ini tahu harga-harga melambung tinggi sekarang. biaya menyekolahkan anak pun ikut-ikutan naik. jika dulu dia memasukkan azka ke sd rancaloa cukup dengan rp 175 ribu, kini biaya sekolah rizal jauh lebih banyak.
“istri bertanya pada tetangga yang seorang guru. katanya, untuk masuk sd harus disiapkan dana tidak kurang dari rp 1 juta. untuk masuk smp, pasti lebih mahal dari itu,” ujar acep.
acep dan istrinya berencana menyekolahkan rizal di sd terdekat, sd rancaloa, sedang azka dia harapkan dapat diterima di smp 31 kiara condong. “Kami mencari sekolah yang terdekat. Biar dapat berhemat. Rizal bisa jalan kaki ke sekolah. azka hanya butuh naik angkot satu kali, tapi harus jalan dulu ke by-pass,” ujar lelaki murah senyum itu.
acep sadar, pendidikan bukanlah barang murah. tapi ia berkeyakinan bahwa itu harga yang layak dibayar dengan segala jerih-payah dan pengorbanan. sekuat tenaga dia akan terus mengayuh sepeda.
“saya belum tahu kapan mau berhenti bersepeda mengantarkan koran. Mungkin nanti kalau tubuh tua ini sudah tidak bisa dipaksakan. sekarang ini, meski lelah, saya bahagia,” ujarnya sambil tersenyum, menampakkan beberapa kerut gelap di bawah dua matanya yang akrab dengan panas matahari.
sudah 26 tahun acep mengayuh sepeda. Sejak udara kota kembang ini masih bersih-segar hingga hari ini berjubel kendaraan rajin menyisakan tumpukan asap, dia setia menggenjot pedal menyusuri jalanan.
setiap bakda subuh, sekitar pukul 05.00 wib, pria berusia hampir separuh abad ini menaiki sepeda gunungnya yang sudah karatan di beberapa bagian. melewati gang-gang sempit di kampungnya, kelurahan cipamokolan, kota bandung, selama hampir satu jam acep menyusuri jalan soekarno-hatta dan buah batu menuju bursa koran di cikapundung.
acep mulai menata 90-an koran harian dan memasukkannya ke dalam tas koran biru tua yang tersampir di boncengan belakang sepeda. sesudah itu dia bergegas mengayuh lagi sepedanya, yang bertambah berat beberapa kilogram oleh muatan koran, menuju rumah para pelanggan yang tinggal di jalan aceh, tongkeng, udang utara, udang selatan, patrakomala, dan bengawan.
“saya menikmati pekerjaan sebagai loper koran. kalau ditanya lelah tidak, ya pasti lelah. tapi inilah hidup saya, tanggung jawab saya pada keluarga,” ujar acep saat ditemui dalam perjalanan pulangnya di jalan soekarno-hatta beberapa hari lalu. butir-butir peluh ada di dahinya. noda-noda hitam pelumas menempel di ujung celana panjang coklat muda yang dia kenakan.
dengan penghasilan sebagai loper, acep mampu menghidupi keluarga hingga hari ini. dua putra tertuanya tamat smk dan man. salah seorang di antaranya sudah mendapat pekerjaan. “saya memandang penting pendidikan. karenanya semua anak saya sebisa mungkin harus bersekolah tinggi-tinggi,” ujarnya.
masih ada tiga putra acep duduk di bangku sekolah. putra ketiganya naik ke kelas 2 smk. dua terakhir, azka zakiah dan rizal mohammad gufron, akan masuk smp dan sd juli nanti. azka lulus ujian nasional (un) sd yang diumumkan sabtu (21/6), sedang rizal menyelesaikan hari-hari terakhirnya di taman kanak-kanak.
inilah tantangan yang harus dihadapi acep. istri aih zubaidah ini tahu harga-harga melambung tinggi sekarang. biaya menyekolahkan anak pun ikut-ikutan naik. jika dulu dia memasukkan azka ke sd rancaloa cukup dengan rp 175 ribu, kini biaya sekolah rizal jauh lebih banyak.
“istri bertanya pada tetangga yang seorang guru. katanya, untuk masuk sd harus disiapkan dana tidak kurang dari rp 1 juta. untuk masuk smp, pasti lebih mahal dari itu,” ujar acep.
acep dan istrinya berencana menyekolahkan rizal di sd terdekat, sd rancaloa, sedang azka dia harapkan dapat diterima di smp 31 kiara condong. “Kami mencari sekolah yang terdekat. Biar dapat berhemat. Rizal bisa jalan kaki ke sekolah. azka hanya butuh naik angkot satu kali, tapi harus jalan dulu ke by-pass,” ujar lelaki murah senyum itu.
acep sadar, pendidikan bukanlah barang murah. tapi ia berkeyakinan bahwa itu harga yang layak dibayar dengan segala jerih-payah dan pengorbanan. sekuat tenaga dia akan terus mengayuh sepeda.
“saya belum tahu kapan mau berhenti bersepeda mengantarkan koran. Mungkin nanti kalau tubuh tua ini sudah tidak bisa dipaksakan. sekarang ini, meski lelah, saya bahagia,” ujarnya sambil tersenyum, menampakkan beberapa kerut gelap di bawah dua matanya yang akrab dengan panas matahari.
Subscribe to:
Posts (Atom)