cerita bermula dari penangkapan asep, salah seorang teman dani. polisi menangkapnya sesudah tertangkap tangan hendak menjual sebuah motor yang tidak disertai surat-surat lengkap. dari interogasi diketahui bahwa motor itu curian. dari mulut asep, nama dani pun disebut sebagai salah satu pelaku.
saat aku datang dengan dua wartawan lain, bocah 16 tahun itu terduduk lesu. entah apa yang dia sesali. Barangkali kegagalannya ikut uas. tapi barangkali juga dia bersedih karena berakhirnya kisah sukses petualangannya mencuri motor.
bayangkan, baru belajar teknik mencuri motor lima bulan lalu, sudah 11 motor berhasil dia bawa kabur. dan polisi tak pernah berhasil mengendus keberadaannya.
"kenapa mau mencuri, dan?" tanyaku. "apakah uang saku dari orang tua tidak cukup?"
"uang saku cukup. saya pengin lebih," ujarnya lirih. dingin.
terang saja uang sakunya selalu cukup. sang ayah seorang kepala sekolah.
dani menjual semua motor curian kepada orang yang sama yang mengajarinya teknik mencuri. orang ini sendiri masih buron. setiap motor dihargai sangat murah, antara Rp 500 ribu hingga rp 600 ribu. Semua uang, menurut dani, habis buat jajan.
"hanya jajan. tidak ada acara mabuk-mabukan," ulangnya menegaskan.
***
ah, dani. tidak tahukah dia bahwa selama wawancara aku berusaha keras menahan air mataku tidak jatuh? kedua mataku sudah berair ketika itu. aku teringat alvin, ponakanku yang masih empat tahun dan sedang memulai masa kanak-kanaknya. betapa keras dunia yang akan menghadangnya kelak.aku teringat juga kumpulan bocah yang bercanda di pos polisi perempatan leuwipanjang setiap kali aku melintas saat pulang kerja. malam. dan aku penasaran kapan dan di mana mereka akan mengistirahatkan tubuh-tubuh lelah mereka sebab pagi hari mereka musti bangun dan menodongkan tangan di pintu-pintu angkot yang terjebak macet.
ah dani. tidak tahukah dia bahwa sesampai di kos aku tidak kuasa lagi menahan air mata itu jatuh? aku teringat betapa tanpa salah, dan cenderung bangga, dia menyebut tempo tidak lebih dari satu menit untuk bisa mengakali sebuah motor.
ah, dani. aku tidak rela melihat wajahmu muncul di televisi dan terpampang di halaman sebuah koran hari ini. aku teringat ponakan kecilku. aku teringat bocah-bocah di leuwipanjang. aku teringat dunia yang bisa menjadi sedemikian kejam.