jemari mungil bocah perempuan itu kokoh menggenggam sebatang pensil yang tinggal lima centimeter panjangnya. sedikit susah-payah dibuatnya deretan huruf di buku kumal di hadapannya: j-i-a-n-s-o-f-i-a.
selesai menulis, dia menoleh ke arah sang ibu dan bertanya: "ibu, sudah benar kan nama saya begini? jian boleh sekolah, ya? mulai besok?"
juju juraiyah, sang ibu, hanya bisa menganggukkan kepala pelan. temaram lampu 20 watt di ruang tamu 3x4 meter tempat dia menemani putrinya belajar setiap petang, memperlihatkan gurat penuh kegetiran di wajah bulatnya. dia teringat kegagalannya tahun lalu memasukkan putri semata wayangnya itu ke taman kanak-kanak. dia teringat hari pertama masuk sekolah pada tengah juli yang kian dekat sementara uang penutup biaya tak kunjung terkumpul.
saat itu awal juni. di luar kamar tamu sebuah rumah kecil di kampung tagog kabupaten bandung tersebut, angin kering pancaroba berdesir mengabarkan datangnya kemarau. musim segera berubah, juju tahu. Tapi dia sungguh tidak tahu apakah hari-hari suramnya juga akan berubah.
***
menyekolahkan jian merupakan mimpi terbesar juju. "saya tidak ingin jian seperti kedua orangtuanya. gara-gara tidak berpendidikan tinggi, hidup jadi serba susah begini. jian harus bersekolah tinggi supaya dapat bekerja baik-baik dan hidup lebih enak," ujar juju yang tamatan sd.
lahir sebagai anak ketiga dari tujuh bersaudara, ibu muda kelahiran 1977 ini merasakan benar susahnya hidup bermodal pendidikan rendah. bersama sang suami, sopyan suteja, yang bahkan tidak tamat sd, mereka harus jatuh-bangun membanting tulang hanya demi bertahan hidup dari hari ke hari. tabungan menjadi sesuatu yang jauh bagi mereka.
sopyan seorang sopir tembak angkutan kota (angkot) cicaheum-cileunyi. dia mendapatkan uang hanya jika ada sopir lain yang lelah dan merelakan angkot miliknya dikemudikan. tiap satu putaran, uang yang dia peroleh harus dikurangi rp 15 ribu untuk setoran dan paling sedikit rp 15 ribu untuk membeli bensin. sisanya, biasanya tidak pernah lebih dari rp 30 ribu, dia bawa pulang.
juju memahami pekerjaan suaminya. sebagai sopir tembak, tidak ada penghasilan tetap yang bisa diharapkan. pendapatan harus pintar-pintar dihemat sebab dia sadar betapa besar biaya dibutuhkan untuk dapat menyekolahkan anaknya. selain biaya masuk yang terus merangkak naik, perlengkapan sekolah pun harus terbeli. sepatu, tas, dan alat tulis yang layak belum dimiliki jian. juga seragam sekolah.
"saya tidak bisa membayangkan seandainya jian tidak bersekolah tahun ini. dia pasti sangat sedih melihat teman-teman sebayanya berangkat ke sekolah dengan berseragam. bagaimanapun, jian harus sekolah," ujar juju.
begitulah juju bermimpi; tapi sebulan lalu, kamis (7/5) pagi tepatnya, dia harus geragapan terbangun. datang kabar tentang penahanan sang suami oleh polisi. sopyan kedapatan membawa satu paket kecil daun ganja kering.
dunia juju jungkir-balik. "saya tidak tahu harus berbuat apa lagi. sakit rasanya. saya dikhianati dua kali," ujarnya berkaca-kaca.
bagi sang suami, penahanan ini memang bukan yang pertama. empat tahun lalu ia tersandung kasus serupa. masa kurungan satu tahun dia habiskan di rumah tahanan kebonwaru bandung sebagai ganjaran menjadi kurir ganja.
waktu itu juju tengah berada di arab saudi sebagai pembantu rumah tangga. dia nekat pergi akibat keuangan keluarga yang tidak pernah membaik. penghasilan tak menentu sang suami sebagai sopir tembak membuatnya berhutang kiri-kanan untuk menutup pengeluaran.
"pada awalnya suami tidak mengijinkan saya pergi ke arab. penginnya saya di rumah merawat anak. tapi mau bagaimana? hutang kami yang lebih dari rp 500 ribu mau dibayar pakai apa?" ujar juju yang mengaku beruntung mendapatkan majikan yang pengertian.
kabar penahanan sang suami datang lewat surat dari keluarga. tapi dia sadar tidak dapat serta-merta pulang. tabungan miliknya belum banyak. jangankan untuk menutup hutang, untuk biaya pulang saja belum cukup. maka dia memilih bertahan untuk beberapa bulan lagi.
ini keputusan berat buat Juju. dia banyak memikirkan jian yang ketika itu berusia satu tahun dan dirawat mertua di kampung cikalang, kabupaten bandung. akibatnya, dia mudah jatuh sakit dan beberapa kali harus dirawat di rumah sakit. ketika akhirnya dia pulang ke rumah, berat badannya merosot hingga 10 kilogram dibanding saat dia berangkat.
sejak pulang dari tanah arab, juju menyadari bahwa dirinya sekarang menjadi tumpuan hidup keluarga, khususnya bagi putrinya. dia pun mulai mencari pekerjaan. sayangnya, ijazah sekolah dasar, satu-satunya ijazah yang dia miliki, mempersulit ruang geraknya.
"sekarang mah pabrik-pabrik mau karyawannya minimal punya ijazah smp. tambahan lagi umur saya sudah tua, pabrik mah lebih memilih tenaga yang muda-muda," tutur juju yang telah beberapa kali mencoba melamar ke pabrik tetapi tidak berbuah.
apa yang bisa juju jual hanyalah tenaganya yang masih cukup kuat mengerjakan pekerjaan kasar. mulailah dia berkeliling di perumahan dekat tempat dia tinggal. jasa mencuci piring dan pakaian dia tawarkan pada keluarga-keluarga sibuk.
upah yang diperoleh juju tidaklah besar. jasa sekali mencuci rp 10.000,00. saat ini baru satu keluarga yang menggunakan jasa juju secara rutin setiap minggu. jika beruntung dia bisa mendapatkan dua sampai tiga keluarga tambahan.
"uang itu hanya cukup untuk memberi uang jajan bagi jian. sedikit sisanya saya tabung buat sekolah nanti. soal makan, kami masih bergantung pada orang tua," ujar juju.
***
beban hidup yang makin runyam dewasa ini pastilah terasa memberatkan bagi sebagian besar orang. naiknya harga bbm diikuti melambungnya harga kebutuhan-kebutuhan pokok. bagi mereka yang berpenghasilan pas-pasan, biaya pendidikan menjadi tak haram disisihkan.
akan selalu ada banyak jian-jian yang lain, mereka yang kurang beruntung untuk mendapatkan akses pendidikan secara mudah, dan akhirnya telantarkan. tapi akan muncul juga juju-juju lain yang dengan sepenuh hati memperjuangkan pendidikan bagi anak-anak yang mereka cintai.
meski hidup serba kekurangan, juju tidak mau kalah pada himpitan persoalan. dari pada memilih kalah pada keterbatasan ekonomi dan bencana daun ganja yang menimpa sang suami, dia berjalan sekuat tenaga mengejar mimpinya, menyekolahkan Jian.
beginilah dia bermimpi: dua minggu sebelum hari pertama masuk sekolah tengah juli nanti, akan dia ajak putri semata wayangnya itu ke kota membeli bahan pakaian warna putih dan merah. lalu segera dia bawa jian ke rumah iis, salah seorang tetangga yang biasa menjahit.
dengan cekatan, iis merentangkan seuntai meteran warna putih ke tubuh bocah berperawakan mungil itu. sementara meteran berpindah cepat dari bahu, punggung, lengan, pinggang, dan lutut jian, mulut penjahit itu tidak berhenti menggumamkan angka-angka dalam bahasa sunda.
duduk di kursi di sudut ruangan, Juju tersenyum mengamati putrinya terbengong, mengikuti anjuran iis. sesekali dia harus mengangkat kedua tangan saat meteran dilingkarkan di dada dan pinggang. di lain saat dia diminta sedikit berputar. "jian pasti terlihat cantik dengan seragam barunya nanti," kata juju dalam hati.
Thursday, June 26, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment