menonton kontes robot di kampus universitas indonesia depok akhir pekan lalu, saya banyak tercengang. lalu tiba-tiba iri. bagaimana tidak? robot-robot makin cerdas sekarang. dalam arti tertentu bahkan makin ‘manusiawi’.
salah satu contohnya, robot pemadam api. dilombakan dalam empat kategori, robot jenis ini bertugas memadamkan kebakaran. semua tentu saja masih simulasi. dia bergerak mematikan nyala lilin dan menyelamatkan boneka dalam arena yang dibagi-bagi dalam sekat.
tapi bayangkan jika robot-robot itu bisa (dan yakinlah, tidak terlalu lama lagi akan bisa) diaplikasikan di kehidupan nyata untuk menangani kebakaran sungguhan. lilin mengandaikan nyala api, boneka merupakan korban yang terjebak, dan arena bersekat melambangkan ruang-ruang gedung yang terbakar.
tanpa bermaksud mengecilkan peran para petugas pemadam, robot-robot yang terprogram khusus untuk lokasi kebakaran yang spesifik niscaya dapat menyumbang andil besar. mereka mengenal medan dan tak diragukan lagi mampu menerobos masuk ke tempat-tempat yang terlalu berbahaya bagi manusia.
bayangkan juga jika robot-robot itu dapat diproduksi banyak dan dijual murah. keluarga-keluarga dapat memiliki satu robot untuk berjaga di rumah mereka. juga jangan lupakan pasar-pasar tradisional yang dalam beberapa tahun terakhir kerap terbakar. mereka berhak punya.
nantinya, begitu penghuni melihat kobaran api pertama, mereka tidak perlu jatuh panik. pencet saja satu tombol di badan robot dan mesin cerdas itu akan beraksi memadamkan api secara otomatis. dengan lugas, dia juga mencari korban.
kecerdasan artifisial robot yang berhasil dibuat hingga hari ini memang baru setaraf dengan kemampuan anak berusia satu tahun, tapi riset dilakukan setiap hari. teknologi terus berlari kencang. bukan mustahil, kecerdasan robot akan berkembang meniru pola evolusi manusia, dari pengguna perkakas sederhana yang bersembunyi di ceruk-ceruk gua menjadi manusia bijak yang menjelajahi angkasa.
david levy termasuk orang yang mempercayai masa depan seperti itu. peneliti kecerdasan artifisial asal universitas maastricht belanda ini percaya robot akan makin serupa dengan manusia. robot mendengarkan cerita kita, membuat kita tertawa, dan memahami perasaan kita. levi bahkan bernujum, pada 2050 nanti orang akan mulai menikah dengan robot.
saya iri. betapa makin manusiawinya robot-robot itu. dan rasa iri saya tersebut makin menjadi-jadi saat di koran pagi dan televisi beberapa hari terakhir, berita-berita ganjil menyergap. kekerasan di monas, bentrok di maluku utara, dan suap di kejaksaan. ganjil, karena ketiganya mengabarkan hal yang sama: manusia-manusia makin menyerupai robot.
robot, seberapa pun cerdas ia, selalu tunduk pada program. dia tidak pernah berinisiatif menyeberang dari ‘kotak’ yang sudah disiapkan untuknya sejak awal. ia berjalan sebatas kepastian-kepastian yang tertanam di kepalanya. tidak ada alternatif bagi yang lain. tidak ada toleransi.
seperti itulah robot, dan seperti itu jugalah manusia-manusia dewasa ini. termasuk saya, dan barangkali Anda. kebenaran menjadi kepastian di kepala sehingga tidak ada yang tersisa buat yang lainnya. kebenaran termonopoli.
maka atas nama kebenaran seperti itu, kita bebas menyerang orang lain yang berbeda. kita boleh memaksakan kehendak pada mereka yang tidak satu pengertian. kita bisa menyingkirkan semua yang tidak mau mengakui apa yang kita akui.
kebenaran tunggal menjadi program kita. juga uang, jika menyimak kasus di kejaksaan. demi memperolehnya, kita rela meninggalkan sumpah jabatan, rela menggadaikan kepercayaan orang banyak. kebenaran tunggal dan uang menjadi program yang menjadikan kita robot-robot yang kaku, yang tak memberi ruang pada yang lain. kebebasan kita mencari alternatif telah tercuri.
saya jadi bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang lebih manusiawi dan siapa yang lebih seperti robot?
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment