Thursday, June 26, 2008

kayuh kaki acep

setiap kayuh kaki acep soleh adalah bukti tanggung jawab pada keluarga, pada istri dan kelima anaknya. setiap tetes keringat yang meluncur dari tubuhnya adalah wujud kepasrahannya pada hidup yang menurut dia, sederhana saja. mengalir, seperti jam-jam yang dia lewatkan di sepanjang perjalanan.

sudah 26 tahun acep mengayuh sepeda. Sejak udara kota kembang ini masih bersih-segar hingga hari ini berjubel kendaraan rajin menyisakan tumpukan asap, dia setia menggenjot pedal menyusuri jalanan.

setiap bakda subuh, sekitar pukul 05.00 wib, pria berusia hampir separuh abad ini menaiki sepeda gunungnya yang sudah karatan di beberapa bagian. melewati gang-gang sempit di kampungnya, kelurahan cipamokolan, kota bandung, selama hampir satu jam acep menyusuri jalan soekarno-hatta dan buah batu menuju bursa koran di cikapundung.

acep mulai menata 90-an koran harian dan memasukkannya ke dalam tas koran biru tua yang tersampir di boncengan belakang sepeda. sesudah itu dia bergegas mengayuh lagi sepedanya, yang bertambah berat beberapa kilogram oleh muatan koran, menuju rumah para pelanggan yang tinggal di jalan aceh, tongkeng, udang utara, udang selatan, patrakomala, dan bengawan.

“saya menikmati pekerjaan sebagai loper koran. kalau ditanya lelah tidak, ya pasti lelah. tapi inilah hidup saya, tanggung jawab saya pada keluarga,” ujar acep saat ditemui dalam perjalanan pulangnya di jalan soekarno-hatta beberapa hari lalu. butir-butir peluh ada di dahinya. noda-noda hitam pelumas menempel di ujung celana panjang coklat muda yang dia kenakan.

dengan penghasilan sebagai loper, acep mampu menghidupi keluarga hingga hari ini. dua putra tertuanya tamat smk dan man. salah seorang di antaranya sudah mendapat pekerjaan. “saya memandang penting pendidikan. karenanya semua anak saya sebisa mungkin harus bersekolah tinggi-tinggi,” ujarnya.

masih ada tiga putra acep duduk di bangku sekolah. putra ketiganya naik ke kelas 2 smk. dua terakhir, azka zakiah dan rizal mohammad gufron, akan masuk smp dan sd juli nanti. azka lulus ujian nasional (un) sd yang diumumkan sabtu (21/6), sedang rizal menyelesaikan hari-hari terakhirnya di taman kanak-kanak.

inilah tantangan yang harus dihadapi acep. istri aih zubaidah ini tahu harga-harga melambung tinggi sekarang. biaya menyekolahkan anak pun ikut-ikutan naik. jika dulu dia memasukkan azka ke sd rancaloa cukup dengan rp 175 ribu, kini biaya sekolah rizal jauh lebih banyak.

“istri bertanya pada tetangga yang seorang guru. katanya, untuk masuk sd harus disiapkan dana tidak kurang dari rp 1 juta. untuk masuk smp, pasti lebih mahal dari itu,” ujar acep.

acep dan istrinya berencana menyekolahkan rizal di sd terdekat, sd rancaloa, sedang azka dia harapkan dapat diterima di smp 31 kiara condong. “Kami mencari sekolah yang terdekat. Biar dapat berhemat. Rizal bisa jalan kaki ke sekolah. azka hanya butuh naik angkot satu kali, tapi harus jalan dulu ke by-pass,” ujar lelaki murah senyum itu.

acep sadar, pendidikan bukanlah barang murah. tapi ia berkeyakinan bahwa itu harga yang layak dibayar dengan segala jerih-payah dan pengorbanan. sekuat tenaga dia akan terus mengayuh sepeda.

“saya belum tahu kapan mau berhenti bersepeda mengantarkan koran. Mungkin nanti kalau tubuh tua ini sudah tidak bisa dipaksakan. sekarang ini, meski lelah, saya bahagia,” ujarnya sambil tersenyum, menampakkan beberapa kerut gelap di bawah dua matanya yang akrab dengan panas matahari.

No comments: